Akhirnya, Suma Ching Hai sampai di India, sebuah negara yang telah diberkati oleh banyak Guru besar selama berabad-abad. Membicarakan perjalanan-Nya di tanah sakral ini, Suma Ching Hai berkata: "Di India, ada banyak praktisi rohani yang hanya makan sekali setiap hari. Mereka berlatih beberapa metode, bukan satu metode pilihan saja, tanpa rumah yang tetap, mereka pergi ke mana-mana dengan berjalan kaki, mencari sang Guru dan Metode. Mereka bermeditasi setiap hari, selama makan atau tidur mereka tidak pernah lupa berlatih walaupun hanya semenit. Mereka tidak pernah bermeditasi dalam waktu singkat. Anda dapat membayangkan betapa dahsyat kekuatan batin mereka. Beberapa dari mereka dapat berjalan di atas api tanpa terbakar. Tetapi, itu semua adalah ketangkasan kecil yang tidak dapat membimbing kita mencapai tingkatan yang tertinggi. Lebih penting mencapai kebijaksanaan dan kebebasan abadi. Kita memiliki kekuatan dahsyat yang tersembunyi, jika kita berlatih dengan tekun dan mempunyai kepercayaan diri yang kuat, tiada apapun yang di atas kita;." Keyakinan yang begitu kokoh, pengabdian yang tanpa pamrih, dan semangat untuk melayani orang terlihat begitu jelas ketika Suma Ching Hai menceritakan pengalaman-Nya selama berkunjung di salah satu ashram (tempat bertapa atau berlatih rohani): "Jika Saya mempunyai waktu, Saya mengerjakan apa yang harus Saya kerjakan. Karena pada umumnya orang tidak suka melakukan pekerjaan rumah tangga, seperti mencuci piring dan mengepel lantai. Saya melakukan pekerjaan ini meskipun sebagai staf kantor, biasanya dibebaskan dari pekerjaan kasar. Saya seorang pekerja yang tangkas dan jika selesai tugas kantor, Saya melihat di mana saja ada kotoran dan yang tidak rapi, Saya segera membersihkan, karena saya tidak suka melihat kotoran dan yang acak-acakan. Saya mengetahui cara mengembalikan sesuatu pada tempatnya yang semula, jadi Saya dapat melakukannya dengan cepat." "Semakin banyak kita bekerja, semakin sempurna pencerahan kita. Terus terang Saya senang sekali menepel tangga-tangga dan lantai di India. Saya berkata kepada diri sendiri dengan senang: "Oh! Saya begitu terhormat sehingga diberi kesempatan untuk membersihkan tangga-tangga ini yang setiap hari dilewati oleh para Suci. Kaki-kaki mereka melewati tempat ini setiap hari. Sepertinya Saya sedang mencuci kaki-kaki para suci. Saya merasa sangat terhormat. Pikiran itu terjadi dengan spontan; tak seorang pun mengajarkan kepada Saya. Hanya mengepel tangga yang dilalui murid-murid, sudah cukup untuk membuat Saya merasa terhormat. Alangkah terhormatnya Saya jika tangga itu pernah dipakai oleh seorang Guru Sejati. Lebih baik kita mengerjakan segala sesuatu tanpa pamrih. Layanilah orang-orang dengan tanpa pamrih, kemudian semuanya akan diberikan kepada Anda. "Selama Saya tinggal di ashram mana pun, Saya tidak pernah mendekati apalagi melekat pada Guru Sejati atau menarik perhatianNya ketika Saya bekerja. Saya hanya melayani orang. Saya mengepel tangga, membersihkan lantai, menyirami tanaman, dan melaksanakan pekerjaan-pekerjaaan yang tidak disukai orang lain. Saya mencuci piring dan sendok karena tidak seorang pun yang sudi membersihkannya. Sesudah makan, piring, alat masak, bertumpukan seperti gunung. Tetapi, Saya menemukan kebahagiaan dalam hal mencuci piring setiap hari." Setelah bekerja tanpa lelah di banyak ashram, akhirnya perjalanan pencarian-Nya yang benar-benar menakjubkan telah mencapai pada bab terakhir di pegunungan yang paling tinggi, paling misterius di seluruh dunia, Himalaya, di tempat yang selama berabad-abad dipercayai oleh orang India bahwa itu adalah tempat tinggal para dewa. Oleh karena itu, setiap tahun berjuta-juta peziarah suci mempertaruhkan jiwa mereka untuk pergi ke Himalaya untuk mengunjungi banyak tempat suci dan mungkin sekali mereka dapat menjumpai salah satu makhluk langka yang telah mencapai pancerahan yang dikatakan hidup terpencil di gua-gua sunyi dan rahasia. Sangat disayangkan, banyak peziarah yang meninggal dalam perjalanan mereka karena menghadapi cuaca yang sangat buruk, tanah longsor atau hamparan lapisan es yang sangat berbahaya. Kurangnya barang kebutuhan hidup dan bekal, sehingga beberapa orang ada yang meninggal karena kelaparan. Ketakutanlah yang menghalangi peziarah-peziarah untuk memasuki lehih jauh ke pedalaman. Hanya seorang manusia yang sangat langka dengan penuh keyakinan kepada Yang Maha Kuasa dan keberanian yang luar biasa, dapat mengabaikan segala mara bahaya. Ketika berbicara mengenai sejumlah petualangan-Nya di Himalaya yang membawa Beliau ke tempat yang lebih dalam dan lebih tinggi di daerah yang bersalju, Suma Ching Hai berkata: "Ketika Saya berada di himalaya, saya tidak mampu menyewa kuda atau kuli. Saya tidak mempunyai apa-apa, jadi Saya harus berjalan kaki. Mungkin karena terus-menerus berjalan kaki membuat badan Saya tetap hangat. Kalau tidak, Saya sudah membeku, karena Saya memakai pakaian dan sepatu yang basah di tengah hujan dan salju pegunungan. Beberapa puncak sangat tinggi dan curam, sungguh sangat mengerikan. Saat itu Saya pasti sudah gila seperti sepasang kekasih yang sedang di landa cinta berat dan tidak ingat pada apa pun juga. Mereka yang sedang dilanda cinta, buta dengan resiko dan beban pernikahan dari kehidupan berkeluarga, mereka juga tidak memikirkan masa depan. Mereka saling terpesona oleh cinta mereka, dan hidup hanya untuk menikmati saat-saat itu.." "Tetapi, Tuhan memberkati orang bodoh seperti Saya. Pada waktu Saya mencari seorang Guru Sejati, Saya hanya mempunyai dua pasang pakaian, tetapi Saya tidak pernah terserang oleh flu ketika menjelajahi pegunungan Himalaya. Kadang-kadang, Saya tidak mampu membeli kayu bakar untuk mengeringkan pakaian Saya, jadi Saya mendekati api unggun orang lain, sambil memegang pakaian di tangan Saya. hawa panas membuat pakaian Saya cepat kering dan Saya pun dapat menghangatkan diri Saya. Saya tentunya sudah buta (cinta) dan "tergila-gila akan Tuhan." Jika sekarang, mungkin saya tidak berani melakukannya." "Dalam pikiran Saya hanyalah Tuhan; dan yang dapat Saya lihat hanyalah Tuhan. Tidak ada pikiran untuk keluarga atau uang. Saya begitu bodoh, tetapi tidak sesuatu pun yang dapat menembus pikiran Saya karena dalam ruang hati Saya telah dipenuhi Tuhan. Sama seperti ketika kita jatuh cinta, kita benar-benar buta akan kesalahan-kesalahan kekasih kita, dan kita menolak untuk mendengarkan hal-hal yang tidak baik mengenai dirinya. Mungkin itulah sebabnya Tuhan selalu melindungi Saya, kalau tidak, Saya pasti sudah meninggal sejak lama." Kesetiaan Suma Ching Hai kepada Tuhan, membuat-Nya dapat mengatasi kesulitan-kesulitan sewaktu berjalan kaki seorang diri dalam lingkungan pegunungan yang tidak ramah. Berikut ini adalah cerita-Nya "Beberapa tempat di Himalaya, tekanan udaranya sangat rendah menyebabkan kita sulit untuk memasak makanan. Saya hanya dapat membersihkan makanan di Sungai Gangga dan memakannya mentah-mentah. Lezat rasanya. Himalaya adalah tempat yang paling indah. Saya dapat hidup tanpa air panas. Senang rasanya masuk ke dalam air yang dingin. Demikian dingin airnya sehingga badan saya rasanya mengkerut. Saya hitung sampai lima, lalu Saya melompat keluar dari sungai yang dinginnya seperti es. Tubuh Saya seolah-olah mengembang bagaikan beribu-ribu bunga dan Saya merasa begitu bahagia." Pada akhir perjalanan-Nya di tempat kediaman para dewa ini, Suma Ching Hai masih seperti sebelumnya hanya membawa dua pasang pakaian, sepasang sepatu, kantong tidur, tempat air, beberapa buku dan sepotong kayu. Beliau hampir selalu basah dan kedinginan jika Beliau naik lebih tinggi. Semakin tinggi Beliau pergi, semakin banyak barang yang harus Beliau buang untuk menghemat tenaga, setelah membuang hampir semua barang-Nya, Beliau serahkan seluruh jiwa-Nya ke tangan Tuhan. Semua benda akan datang kepada mereka yang mencari Tuhan dan hanya Tuhan. Jadi tak dapat dielakkan, suatu hari Beliau menemukan Guru yang selalu Beliau rindukan. Guru tersebut adalah Guru Agung Khuda Ji, yang hidup menyendiri di tempat terpencil Gunung Himalaya. Guru Khuda Ji berumur 450 tahun pada waktu Guru Khuda Ji menginisiasi dan mengajarkan Suma Ching Hai suatu metode meditasi yang kuno melalui pengamatan Suara Surgawi dan Sinar Ilahi. Guru Khuda Ji tinggal di Himalaya dengan sabar menunggu Suma Ching Hai yang merupakan murid pertama dan satu-satu-Nya. Meskipun Suma Ching Hai pernah berlatih meditasi dengan metode sejenis ini sebelumnya, Guru Khuda Ji tetap memberikan Suma Ching Hai transmisi rohani tertinggi, yaitu intisari dari inisiasi. Hanya sedikit sekali Guru Agung yang telah mencapai Pencerahan Sempurna, dapat memberikan inisiasi kepada para murid-Nya. Guru Khuda Ji segera meninggalkan tubuh fisik-Nya setelah menunaikan misi mulia-Nya. Suma Ching Hai jarang menceritakan tentang Guru Khuda Ji. Suma Ching Hai berterima kasih kepada semua Guru yang pernah membimbing-Nya dalam perjalanan untuk mencapai Kesejatian. Tetapi, Suma Ching Hai memberikan penghargaan tertinggi kepada Tuhan: "Saya mempunyai banyak Guru baik yang berwujud maupun tak berwujud, dan masing-masing mengajarkan saya barmacam-macam metode yang tidak sama. Sesungguhnya, Tuhanlah satu-satunya Guru Sejati Saya. "Tetapi, pada suatu saat Suma Ching Hai ditanya oleh saudara sepelatihan mengenai Guru Besar-Nya dari Himalaya, dan Dia berkata "Oh, Saya mengikuti seorang Guru Sejati - seorang yang sangat agung! Tetapi Ia sudah meninggal. Ia hanya mempunyai satu murid, itulah Saya. Dan Saya harus meneruskan pekerjaan-Nya." Setelah berjumpa dengan Guru Khuda Ji, Suma Ching Hai tinggal beberapa bulan di Himalaya untuk menyempurnakan latihan-Nya dengan metode meditasi kuno ini. Meskipun dalam kondisi yang sangat sulit dan bahaya, Suma Ching Hai merasa kagum terhubung secara aneh dengan daerah spiritual yang unik ini. Ia pernah berkata, "Di Himalaya, anda dapat merasakan semua hewan dan tumbuhan bersama-sama memberikan suatu suasana yang ramah dan penuh persahabatan. Langit begitu tenang dan luas tak terhingga; pohon-pohon pinus sangat bersahabat. Saya hidup di dataran yang tinggi sekali dan dapat merasakan awan-awan putih mengelilingi sekitar kita. Sepertinya Saya sedang berjalan di atas awan. Saya tidak memanggil awan untuk membawa Saya; mereka datang sendiri. Anda mungkin pernah melihat lukisan orang yang dapat mengemudikan awan-awan. Keadaan itu sama persis dengan apa yang saya ceritakan. Itu bukan fenomena Surgawi, itu adalah kenyataan umum di Himalaya." Turun kembali ke dataran, Suma Ching Hai mengunjungi salah satu ashram yang pernah Beliau tinggali sebelumnya. Ketika Suma Ching Hai duduk dengan santai membaca koran lama, salah satu dari murid yang paling senior di ashram tersebut yang telah berguru kepada 3 suksesi ketua ashram yang berbeda, secara tak terduga menyembah dengan merebahkan seluruh tubuhnya di hadapan-Nya, memegang dan mencium kaki-Nya. Tentu saja, Suma Ching Hai terkejut dan tercengang. Setelah itu Suma Ching Hai menjelaskan "Ini bukan pertama kali kita bertemu, kita pernah bekerja bersama selama beberapa bulan dan kita minum teh bersama." Tetapi ia menyembah kepada Saya setelah Saya kembali dari perjalanan Saya di pegunungan Himalaya. Saya takut bahwa ego Saya akan tumbuh setinggi gunung! Orang-orang di sekitar pun sangat terkejut. Saya demikian terperanjat sehingga Saya tidak dapat berpikir apa pun. Pikiran Saya kosong dan tidak dapat memikirkan lebih lanjut tentang kejadian tersebut. Saya hanya mengetahui bahwa Saya harus cepat pergi dari sana." Maka, Suma Ching Hai langsung pergi. Suma Ching Hai berusaha sedapat mungkin menyamar agar tidak menarik perhatian orang ketika berkelana ke seluruh India. Tetapi, Sinar Rohani mahamulia yang Beliau miliki tidak mungkin ditutupi. Di India, saat pesta Maha Kumbh Mela, yang diselenggarakan setiap 12 tahun di Hardwar, tepi Sungai Gangga di Uttar Pradesh, berjuta-juta orang Hindu dari seluruh negri berkumpul selama sebulan. Itu adalah suatu pertemuan yang langka dari para Guru Spiritual. Banyak Guru Spiritual turun dari Himalaya hanya untuk peristiwa tersebut, jadi peziarah-peziarah datang dengan menyiapkan banyak pertanyaan dan segala macam persembahan. Tak heran, kehadiran Suma Ching Hai di sana menimbulkan suatu keributan. "Pada waktu Saya berada di Kumbh Mela, banyak orang mengikuti Saya. Di India jika seorang wanita pergi sendirian, orang-orang akan melempari batu kepadanya dan mengira bahwa dia seorang wanita jalang. Tetapi, meskipun Saya berpergian sendiri, orang-orang menghormati Saya dan memberikan rempah-rempah, kelapa, bunga-bunga dan makanan. Malah mereka memberi Saya tenda terbaik yang biasanya diberikan kepada para Guru Agung. Mereka membiarkan Saya memakai tenda besar untuk Saya sendiri, sedangkan beberapa Guru harus berdesakan dalam satu tenda." "Tidak ada sesuatu pun dari diri Saya yang istimewa yang dapat menarik perhatian. Saya tidak memaku diri Saya dengan paku dan tidak memelihara jenggot; Saya pun tidak membuat diri Saya hitam dengan abu; Saya juga tidak kurus seperti kerangka. Anda dapat mengenali para suci pada saat Anda melihat-Nya. Mereka terkena terik matahari sepanjang hari, jadi kebanyakan dari mereka menjadi hitam. Mereka memelihara jenggot karena mereka tidak ada waktu untuk mencukurnya. Mereka juga berambut panjang. Anda segera dapat mengenali bahwa mereka adalah Guru Agung atau para Suci. Saya sama sekali tidak serupa dengan mereka!" Kemudian, Beliau meninggalkan India dan ke mana pun Dia pergi, orang-orang secara intuitif mengenal kehebatan spiritual-Nya. Suma Ching Hai tidak mempunyai keinginan untuk menarik pengikut; tetapi beberapa kali Dia melarikan diri dari mereka yang menemukan-Nya, mereka terus berdatangan. Akhirnya, di Formosa sama seperti yang terjadi di India, New York dan beberapa bagian dunia, Suma Ching Hai ditemukan oleh sekelompok pencari spiritual yang dibimbing oleh Ketuhanan menuju kepada-Nya. Pada saat itu, Suma Ching Hai hidup tanpa dikenal nama-Nya di belakang sebuah kuil yang tidak dikenal. Beliau tersentuh oleh ketulusan mereka dan menyadari bahwa Beliau tidak dapat menghindari misi hidup-Nya. Para pencari spiritual dengan tulus menghendaki inisiasi, akhirnya Suma Ching hai mengabulkan permintaan mereka, demikianlah Beliau hidup sebagai seorang Guru di masyarakat. Di samping misi Suma Ching Hai yang utama yang bersifat spiritual, Beliau juga sering memberikan bantuan material kepada orang-orang yang membutuhkan. Oleh sebab itu, beberapa tahun ini Suma Ching Hai menerima banyak sekali penghargaan atas kepedulian kemanusiaan-Nya yang telah membantu berjuta-juta manusia di seluruh dunia dalam mengatasi bencana alam, kemiskinan dan penyakit. Yang paling menonjol adalah penghargaan World Spiritual Leadership Award (Penghargaan Pemimpin Spiritual Dunia Tahun 1994) yang diberikan oleh 6 orang gubernur dari 6 negara bagian di Amerika Serikat (Illinois, Iowa, Wisconsin, Kansas, Missouri dan Minnesota) karena bantuan-Nya pada tahun 1993 untuk bencana banjir Sungai Missisippi. Banyak sekali bantuan-Nya yang tidak diketahui orang karena dilaksanakan secara diam-diam tidak melalui pemerintahan. Kasih saying-Nya yang tidak membeda-bedakan, seperti kesabaran, ketegasan, dan ketekunan-Nya yang selalu terpapar jelas dalam kehidupan sehari-hari Beliau, adalah kualitas penting bagi semua praktisi rohani. Kualitas tersebut juga diajarkan dan diteladankan oleh Guru-guru Agung terdahulu seperti Yesus Kristus, Budha Shakyamuni, Khrisna, Lao-Tze, Nabi Muhammad, Guru Nanak dan lain-lain. Meskipun kehidupan masing-masing Guru Agung mempunyai keunikan tersendiri, namun perjalanan rohani yang mereka tempuh selalu sama. Mereka melakukan meditasi dengan mengamati Sinar dan Suara Ilahi. Suma Ching Hai menamakan metode tersebut Metode Quan Yin, karena Beliau memulai ajaran-Nya di Formosa. "Quan Yin" adalah suatu istilah dalam bahasa Mandarin yang berarti: Pengamatan Arus Suara Batin. Getaran Asli atau Suara yang bersifat transcendental, oleh sebab itu hanya dapat dirasakan di dalam keheningan. Murid-murid Yesus Kristus menyebut-Nya "Roh Kudus" atau "Firman" (dalam bahasa Yunani kata "Logos", berarti Suara). Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama Allah, dan Firman itu adalah Allah". Setelah Budha Shakyamuni mencapai Pencerahan, Dia juga memperkenalkan Suara ini dan menyebutnya "Genderang Surgawi". Khrisna menyatakan diri-Nya sebagai "Suara dalam Eter". Nabi Muhammad mengamati Suara ini di Gua Gare Hira ketika Ia melihat Malaikat Jibrail (Gabriel); dan Lau-Tze menyatakan Tao sebagai "Suara Agung". Sinar Rohani juga merupakan perwujudan dari kehadiran Tuhan. Oleh sebab itu, para Guru Sejati zaman dahulu mentransmisikan Cahaya dan Suara Ilahi kepada murid-murid mereka, sama seperti yang diterangkan oleh Suma Ching Hai: "Jadi kita berhubungan dengan Jiwa (Jati Diri) ini, yang merupakan perwujudan Sinar dan Getaran Suara Ilahi, dan dengan melakukan hal ini, kita dapat mengenal Tuhan. Sebenarnya, ini bukan suatu metode. Ini adalah kekuatan Guru Sejati. Seandainya, Anda memiliki kekuatan ini maka Anda juga dapat mengalihkannya kepada orang lain. Metode ini adalah metode transendental yang tidak berwujud sehingga tidak dapat dijelaskan dengan bahasa. Meskipun seseorang menjelaskannya kepada Anda, Anda tidak akan dapat menerima Sinar dan Suara Ilahi, kedamaian batin dan kebijaksanaan Ilahi. semua ini ditransmisikan di dalam keheningan dan ketenangan. Anda dapat melihat Guru-guru Sejati terdahulu seperti Yesus Kristus atau Budha. Anda akan menerima semua yang Anda butuhkan untuk mengikuti jejak mereka, dan sedikit demi sedikit Anda akan menjadi seperti Kristus, dan Anda akan bersatu dengan Tuhan."
Dalam waktu kurang dari 10 tahun, Metode Quan Yin, Seni Meditasi yang kuno,
telah tersebar di banyak negara di semua benua. Banyak ceramah Suma Ching
Hai dan diskusi non-formal telah dicetak dalam banyak buku dan kaset
audio/video dalam berbagai bahasa dan ratusan ribu orang dari berbagai
kepercayaan telah diinisiasi. Suma Ching Hai menginisiasi pencari
Ketuhanan yang tulus. Suma Ching Hai membiayai misi-Nya dengan menjual
karya seni yang beraneka warna, gaun yang indah, perhiasan surgawi SM yang
dirancang oleh Beliau.
|